Lima Kiai, Lima Cahaya, Jejak Silaturahmi yang Menyambung Langit dan Bumi di Hari Fitri


RTNews. Banyumas - Dalam suasana hangat Idul Fitri hari kedua, Ahad (22/03/2026), sebuah obrolan penuh makna mengalir di sepanjang perjalanan mudik dari Semarang menuju Kedungbanteng, Banyumas. 


Wartawan senior, sekaligus Tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Dr. H. Agus Fathuddin Yusuf, M.A., 

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Istiqomah (YADRI) Kedunglemah, Kedungbanteng, Banyumas, juga Sekretaris MUI Provinsi Jawa Tengah dan Dosen FISIP Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, 


Menjawab secara rinci, berbagi kisah spiritualnya kepada santri “mbeling” Purwokerto Barat, dan awak media yunior, menghadirkan refleksi mendalam tentang arti silaturahmi dengan para kiai sebagai jalan kehidupan yang sarat keberkahan.


Dalam penuturannya, H.  Agus Fathuddin  menyampaikan bahwa sedikitnya ada lima kiai yang menjadi cahaya dalam perjalanan hidupnya.


“Mereka bukan sekadar ulama panutan, tetapi murabbi, pembimbing jiwa, sekaligus orang tua ruhani bagi saya,” ungkapnya tegas.


Ia menyebut nama-nama tersebut dengan penuh takzim, almaghfurlahu KH Masruri Mughni, Dr. KHMA Sahal Mahfudh, KH Maimoen Zubair, KH Abdurrahman Chudlori, dan KH Achmad Mansyur.


Ia menegaskan bahwa meski para kiai tersebut telah wafat, jejak mereka tetap hidup.


“Mereka tetap hidup dalam ingatan, dalam doa, dan dalam jalan hidup yang mereka wariskan,” ujarnya.


Ia juga menjelaskan lokasi peristirahatan para ulama tersebut, dari Tanah Suci hingga tanah kelahiran, yang kini menjadi titik-titik ziarah penuh rindu dan penguat ikatan ruhani.


Menurutnya, ziarah bukan sekadar tradisi, melainkan upaya menjaga hubungan batin. 


“Ziarah bagi saya dan keluarga,  bukan sekadar tradisi. Ia adalah cara menjaga hubungan, cara mengingat, dan cara menimba ulang energi spiritual,” jelasnya. 


Ia mengaku selalu menyempatkan diri berziarah setiap kali berada di Makkah, Madinah, maupun daerah-daerah yang menjadi jejak para gurunya.


Saat ditanya tentang kedekatannya dengan para kiai khos, Dr. H. Agus Fathuddin menjawab dengan rendah hati,


“Saya sendiri kadang kesulitan menjawab, barangkali karena jalan hidup mempertemukan.” 


Ia menuturkan bahwa kedekatan itu terjalin melalui jalur jurnalistik, organisasi Nahdlatul Ulama, hingga tradisi keluarga yang sejak kecil telah akrab dengan lingkungan ulama.


Ia juga menekankan bahwa hubungan tersebut bukan sekadar formalitas.


“Yang paling saya syukuri, hubungan itu menjadi hubungan emosional. Saya bisa curhat seperti anak kepada bapak, meminta doa, memohon ijazah amalan, dan mencari ketenangan hidup,” tuturnya dengan nada haru.


Berbagai pengalaman spiritual pun ia bagikan, mulai dari perjalanan ke Tanah Suci, Mesir, hingga Yaman. 


“Itu bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan ruhani,” tegasnya. 


Bahkan kenangan sederhana seperti makan bersama gurunya menjadi momen penuh makna.


“Setiap sowan, tidak boleh pulang sebelum makan satu meja. Itu kenangan yang tidak ternilai,” kenangnya.


Lebih jauh, ia menegaskan bahwa kisah tersebut bukan untuk membanggakan diri.


“Apa yang saya sampaikan ini bukan untuk riya, tetapi pelajaran penting bahwa silaturahmi dengan kiai adalah harta yang tak ternilai,” ujarnya.


Ia menambahkan, “Silaturahmi itu membuka jalan ilmu, membuka jalan keberkahan, dan mendekatkan kita kepada Allah SWT.”


Di akhir perbincangan, ia mengingatkan bahwa meski para kiai telah tiada, hubungan itu tetap hidup. 


“Silaturahmi itu terus mengalir melalui dzuriyah, doa, dan kenangan. Selama adab dijaga dan doa tidak putus, keberkahan akan terus mengalir lintas generasi,” pungkasnya.


Obrolan sederhana di hari Fitri itu pun menjelma menjadi renungan mendalam, bahwa di tengah hiruk pikuk kehidupan, ada tali-tali ruhani yang harus terus dirawat, karena di sanalah keberkahan hidup bersemayam, menghubungkan manusia dengan sesama, sekaligus mengantarkan jiwa semakin dekat kepada Sang Pencipta.


(Kontributor : Djarmanto-YF2DOI//Redaksi)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama