Sahur Kebangsaan Nyai Sinta Nuriyah di Banyumas, Merawat Bhinneka Menjaga Indonesia


RTNews. Banyumas - Suasana penuh khidmat dan hangat menyelimuti kegiatan sahur kebangsaan bersama Nyai Hj. Dr. (H.C.) Dra. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, M.Hum., di Pondok Pesantren Legowo Kendalisada, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, pada Minggu dini hari (08/03/2026).


Kehadiran tokoh perempuan nasional yang dikenal sebagai pejuang kemanusiaan dan pluralisme ini menjadi magnet spiritual yang menyatukan berbagai elemen masyarakat dalam satu ruang kebersamaan di bulan suci Ramadhan, disambut Paduan suara dari Fatayat NU Kalibagor dan 500 jamaah laki-laki & perempuan dilokasi PP Legowo Kendalisada Desa Kalibagor, Kecamatan Kalibagor, kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.


Nyai Sinta hadir didampingi putrinya Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid, aktivis Islam dan Direktur The Wahid Institute. Kegiatan yang berlangsung penuh keakraban tersebut dihadiri para santri, tokoh agama, tokoh lintas agama, tokoh masyarakat, serta masyarakat sekitar yang memadati lokasi acara dengan penuh antusias.


Turut hadir anggota DPRD Kabupaten Banyumas yang juga menjabat Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Banyumas, unsur Forkopimcam Kalibagor, para alim ulama, tokoh masyarakat, kaum duafa, serta berbagai lapisan masyarakat dari beragam unsur. Tampak pula Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas beserta jajaran, keluarga besar Pondok Pesantren Legowo Kendalisada Kalibagor, keluarga besar Nahdlatul Ulama beserta seluruh badan otonom dan lembaganya, serta tamu undangan lainnya yang larut dalam suasana silaturahmi kebangsaan yang hangat dan penuh kekeluargaan.


Acara diawali dengan pembacaan basmalah dan dilanjutkan dengan lantunan lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan bersama oleh seluruh hadirin. Momentum tersebut menjadi simbol kuat bahwa nilai keimanan dan kecintaan terhadap tanah air adalah dua hal yang tidak terpisahkan, sebagaimana pesan para ulama bahwa hubbul wathan minal iman, cinta tanah air adalah bagian dari iman.


Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas Dr. H. Ibnu Asaddudin, S.Ag., M.Pd., menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaan atas kehadiran Nyai Sinta Nuriyah di Banyumas. Ia menegaskan bahwa masyarakat Banyumas merasa sangat terhormat atas kunjungan tersebut. “Hari ini kita merasa sangat bahagia kedatangan Ibu Sinta dan Mbak Yenny bersama rombongan. Kita berdoa semoga beliau semua selalu diberikan kesehatan, panjang umur, dan keberkahan,” ujarnya.


Ia juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga persatuan dan kekompakan dalam membangun daerah dan bangsa. “Kami memohon doa agar para pemimpin Banyumas selalu diberi kesehatan dalam mengawal daerah ini. Semoga Banyumas tetap kompak, aman, produktif, adil, dan sejahtera serta mampu memberikan kontribusi dalam membangun Indonesia,” tegasnya.


Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Legowo Kendalisada, KH. Slamet Subakhi, S.H.I., mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaan yang mendalam atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai kehadiran Nyai Sinta Nuriyah beserta rombongan menjadi keberkahan tersendiri bagi pesantren dan masyarakat sekitar. “Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan berterima kasih. Ini merupakan kebahagiaan dan keberkahan yang sangat spesial bagi kami semua, atas rawuhnya Ibu kita, panutan kita, Nyai Hj. Dr. (H.C.) Dra. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid bersama putrinya serta rombongan dan para tokoh lintas agama. Kehadiran beliau menjadi berkah tersendiri bagi Pondok Pesantren Legowo Kendalisada dan masyarakat Banyumas,” tuturnya.


Senada dengan itu, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Legowo Kendalisada, Riswoto, S.H., S.Pd., juga menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kehadiran Nyai Sinta Nuriyah beserta rombongan. Ia menegaskan bahwa momentum tersebut menjadi kehormatan sekaligus kebahagiaan besar bagi keluarga besar pesantren. “Kami merasakan kebahagiaan dan kebanggaan yang luar biasa. Kehadiran beliau menjadi inspirasi dan semangat bagi kami untuk terus menebarkan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan persaudaraan,” ungkapnya.


Dalam tausiyah dan arahannya, Nyai Sinta Nuriyah menegaskan bahwa kegiatan sahur bersama masyarakat kecil merupakan gerakan kemanusiaan yang telah ia jalankan selama puluhan tahun. “Kegiatan sahur bersama kaum duafa dan kaum marjinal ini sudah saya lakukan sekitar 26 tahun, sejak mendampingi Gus Dur. Tujuannya agar kita bisa mendengar langsung apa yang mereka rasakan dan apa kesulitan yang dihadapi rakyat kecil,” ungkapnya.


Nyai Sinta juga mengingatkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang majemuk dengan berbagai suku, agama, bahasa, dan budaya. Karena itu, masyarakat harus menjaga persaudaraan dan tidak mudah terpecah oleh perbedaan. “Rakyat Indonesia itu beragam. Tetapi justru karena keberagaman itu kita harus saling menghormati, tidak boleh saling merendahkan, tidak boleh bermusuhan, karena pada hakikatnya kita semua adalah saudara sebangsa,” tegasnya.


Kegiatan sahur kebangsaan tersebut ditutup dengan doa bersama, memohon agar Allah SWT menurunkan rahmat dan keberkahan bagi masyarakat Banyumas dan seluruh bangsa Indonesia. Momentum Ramadhan itu pun menjadi pengingat bahwa nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan kebersamaan adalah fondasi utama dalam merawat harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara.


Kontributor : Djarmanto-YF2DOI//Redaksi)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama