Wayang Kulit dan Dakwah Berpadu di Harlah Ke-40 Madrasah Al-Ittihad 2 Pasir Lor, Sarat Makna

 


RTNews. Banyumas – Harmoni antara langit dakwah dan bumi budaya berpadu indah dalam puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-40 Madrasah Al-Ittihad 2 Pasir Lor, Banyumas  yang digelar melalui pagelaran wayang kulit semalam suntuk bertajuk lakon “Manik Maninten”, di halaban Madrasah, Sabtu (04/04/2026). 


Perhelatan ini menjadi momentum sakral yang memadukan nilai-nilai keislaman dengan kearifan lokal dalam balutan seni tradisi yang adiluhung.


Ribuan  masyarakat dari berbagai penjuru Pasiraya dan dari luar Pasiraya  memadati halaman madrasah, juga jalan dikanan kiri madrasah, sejak senja hingga fajar. 


Di bawah gemintang malam, alunan gamelan yang syahdu berpadu dengan lantunan doa, menghadirkan suasana khidmat, sejuk, dan penuh kebersamaan.


Ketua Pengurus Madrasah Al-Ittihad Pasir Lor, KH. Muhammad Ali Sodikin (Mbah Sod), dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur mendalam atas perjalanan empat dekade madrasah yang terus konsisten dalam mencetak generasi berilmu, berakhlak, dan berbudaya.


Ia menegaskan bahwa dakwah dapat hadir dalam berbagai wajah, termasuk melalui seni tradisi.

“Alhamdulillah, kita dipertemukan dalam suasana penuh keberkahan. Wayang kulit menjadi media dakwah yang indah, merangkul semua kalangan dalam bingkai persaudaraan,” tuturnya.


Prosesi pembukaan berlangsung khidmat dan sarat makna melalui seremoni penyerahan wayang gunungan sebagai simbol dimulainya lakon kehidupan. Penyerahan dilakukan oleh Mbah Sod, Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Juli Kristianto, S.E., Ketua Panitia Desli Hariyana, serta Kepala Madrasah Jamil, kepada empat dalang utama. 


Momen tersebut menjadi perlambang estafet nilai, bahwa dakwah, budaya, dan pendidikan harus terus diwariskan lintas generasi.


Ketua Panitia, Desli Hariyana, mengungkapkan bahwa peringatan Harlah ke-40 ini juga diisi dengan berbagai kegiatan sosial sebagai wujud nyata kepedulian madrasah terhadap masyarakat. Khitan massal yang diikuti 17 anak serta 45 calon pendonor darah dengan capaian 31 kantong menjadi bagian dari rangkaian kegiatan tersebut, disamping masih banyak kegiatan lainnya.


“Ini adalah bentuk rasa syukur kami. Madrasah tidak hanya hadir sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai bagian dari solusi sosial di tengah masyarakat,” ujarnya.


Apresiasi turut disampaikan oleh Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Juli Kristianto, S.E., yang mendukung penuh pelestarian budaya melalui keterlibatan dalang muda.


Ia menekankan pentingnya menjaga etika dan nilai dalam setiap pertunjukan, khususnya di lingkungan madrasah.

“Seni adalah bagian dari dakwah yang halus. Maka harus dijaga agar tetap berada dalam koridor nilai dan adab,” tegasnya.


Pagelaran wayang kulit ini menghadirkan kolaborasi empat dalang utama, yakni Ki Gandhik Wayah Soegino, Ki Dimas Buyut Soegino, Ki Andhika Pratama, S.Sn., dan Ki Wijasena Lanang Amartha, yang didukung oleh belasan seniman muda dari SMKI Banyumas. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata tumbuhnya regenerasi pelaku seni tradisional di kalangan generasi muda.


Lakon “Manik Maninten” yang dipentaskan sarat akan nilai filosofi kehidupan, seperti keteguhan, kesetiaan, dan pencarian jati diri, nilai-nilai yang selaras dengan visi madrasah dalam membentuk insan yang berkarakter dan berbudaya.


Pagelaran semalam suntuk ini bukan sekadar hiburan, melainkan refleksi perjalanan panjang madrasah dalam menjaga keseimbangan antara iman, ilmu, dan tradisi.


Dalam setiap sabetan wayang dan denting gamelan, tersirat pesan moral dan doa yang mengalir bagi masa depan generasi penerus.


Dengan berakhirnya pagelaran yang disambut antusias masyarakat, Harlah ke-40 Madrasah Al-Ittihad 2 Pasir Lor menegaskan komitmennya sebagai pilar pendidikan yang adaptif, religius, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai budaya bangsa.


Sebuah langkah mantap menuju masa depan, tanpa tercerabut dari akar tradisi yang menjadi jati diri.


(Kontributor : Djarmanto-YF2DOI//Redaksi)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama