Waspada Modus Telepon Kurir Paket Minta Kode Dilayar HP


RTNews. Banyumas - Sebagai bentuk kepedulian terhadap keamanan masyarakat, Manto membagikan pengalaman yang diduga berkaitan dengan modus penipuan digital melalui telepon yang terjadi pada Kamis (18/06/2026) sekitar pukul 13.32 WIB.


Dalam keterangannya, ia menerima panggilan dari nomor +62 853-6226-2732 yang pada layar telepon tertulis nama "Fauzul J*T". Namun, identitas penelepon tersebut tidak dapat dipastikan kebenarannya karena bukan kontak yang tersimpan dan tidak memiliki grup WhatsApp yang sama.


Menurut Manto, penelepon mengaku sebagai pihak pengantar paket dan meminta agar ia mengirimkan lokasi terkini atau share location. Permintaan tersebut tidak dipenuhi, dan ia justru meminta agar paket langsung diantar ke kantor.


"Awalnya penelepon meminta saya mengirimkan titik lokasi. Saya jawab, silakan langsung ke kantor saja karena saya sedang ada tamu," ujar Manto.


Percakapan kemudian berlanjut dengan pertanyaan mengenai nomor resi paket. Setelah Manto menyampaikan belum menerima resi, penelepon mengaku akan mengirimkannya dan meminta agar kode yang muncul di layar telepon dibacakan kembali.


"Saya melihat memang ada notifikasi atau kode yang muncul di layar HP. Namun saya tidak membacakan kode tersebut. Saya justru meminta agar paket langsung diantarkan karena saat itu saya sedang bersama beberapa rekan," tegasnya.


Tidak lama setelah itu, sambungan telepon mendadak diputus oleh penelepon dan hingga kini tidak ada lagi upaya komunikasi lanjutan.


Manto mengingatkan masyarakat agar senantiasa meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan yang memanfaatkan teknologi komunikasi. Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh sembarangan memberikan kode OTP, PIN, kata sandi, data pribadi, nomor rekening, maupun lokasi terkini kepada pihak yang belum jelas identitasnya.


"Jangan pernah membacakan kode apa pun yang masuk ke HP kepada orang lain. Verifikasi terlebih dahulu melalui jalur resmi. Tetap eling, waspada, dan hati-hati agar tidak menjadi korban kejahatan digital," pesannya.


Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus teknologi, kewaspadaan adalah benteng pertama dalam menjaga keamanan diri dan keluarga. Bagai pelita yang menerangi jalan di tengah gelapnya malam, kehati-hatian menjadi cahaya penyelamat dari berbagai jebakan kejahatan digital yang semakin beragam.


"Saring sebelum sharing, teliti sebelum percaya, dan waspada sebelum terlambat," pungkas Manto.


Semangat literasi digital, kecerdasan dalam bermedia, serta keteguhan menjaga data pribadi harus terus ditanamkan demi terwujudnya masyarakat yang aman, tangguh, dan terlindungi dari berbagai ancaman penipuan berbasis teknologi.


(Redaksi)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama