Gus Fahmi Ajak Nahdliyin Jaga Persatuan NU, Meneladani Akhlak Pendiri hingga Akhir Hayat


RTNews. Semarang – Suasana khidmat penuh kehangatan menyelimuti acara halalbihalal keluarga besar PCNU Kota Semarang yang digelar di Kantor PCNU, Jalan Puspogiwang I No. 47, Kamis (02/04/2026).


Dalam momentum penuh berkah ini, cucu pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy'ari, yakni KH Fahmi Amrullah Hadziq, hadir memberikan tausiah yang menggugah jiwa dan menggetarkan nurani.


Hadir pula sejumlah tokoh penting seperti Kholison, Iswar Aminuddin, Hendrar Prihadi, dan Anasom.


Dalam tausiahnya, Gus Fahmi menegaskan pesan luhur kepada seluruh warga Nahdliyin agar berkhidmah di tubuh Jam’iyyah Nahdlatul Ulama dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan.


Ia mengingatkan dengan tegas, “Jika terjadi perbedaan di dalam NU, mulai dari pusat hingga ranting, maka selesaikan dengan baik tanpa mengorbankan organisasi. Ingatlah akhlak para pendiri NU sebagai cahaya penuntun.”


Mengutip dawuh agung sang kakek, ia menghidupkan kembali pesan spiritual yang sarat makna, “Siapa yang mau mengurus NU akan dianggap sebagai santriku, dan siapa yang menjadi santriku akan aku doakan husnul khatimah bagi dirinya dan keluarganya.” 


Kutipan itu ditegaskan sebagai warisan ruhani yang mengikat batin setiap kader NU agar tetap setia menjaga marwah jam’iyyah.


Menanggapi dinamika dan kegaduhan yang sempat terjadi di tubuh PBNU, Gus Fahmi memberikan perspektif menyejukkan.


Ia mencontohkan bahwa sejak era KH Hasyim Asy'ari, perbedaan seperti persoalan kentongan hingga penetapan 1 Syawal pernah terjadi. Namun semuanya diselesaikan dengan bijak tanpa merusak organisasi. 


Dengan tegas ia menasihati, “Jika sudah berbeda jangan dipaksakan sama, dan jika sudah sama jangan dipaksakan berbeda.”


Lebih jauh, ia mengajak seluruh pengurus dan warga Nahdliyin untuk memfokuskan energi pada kerja nyata dalam bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan kesejahteraan umat.


Ia menegaskan, “Hal-hal yang tidak penting, terutama khilafiyah furu’iyah, sebaiknya ditinggalkan demi kemaslahatan yang lebih besar.” 


Seruan itu menjadi pengingat agar NU tetap menjadi pelayan umat yang produktif dan solutif.


Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kontribusi nyata warga NU dalam pembangunan kota.


Ia menegaskan, “Peran aktif NU sangat terasa di berbagai sektor pembangunan, termasuk berdirinya gedung PCNU yang megah berkat gotong royong warga dan dukungan pemerintah.”


Acara ini juga menjadi semakin sakral dengan diijazahkannya wirid istighatsah oleh Gus Fahmi, yang bersumber dari amalan KH Hasyim Asy'ari. 


Amalan tersebut diharapkan menjadi penguat spiritual dalam setiap langkah perjuangan warga NU di berbagai lini kehidupan.


Selain menghadiri halalbihalal PCNU, Gus Fahmi juga bersilaturahmi dengan keluarga besar alumni santri Pondok Pesantren Tebuireng dalam rangkaian kunjungannya di Semarang, mempererat ikatan ukhuwah yang telah terjalin lintas generasi.


Di penghujung acara, pesan-pesan penuh hikmah menggema sebagai seruan moral bagi seluruh Nahdliyin. 


“Jagalah persatuan, rawatlah NU dengan cinta dan keikhlasan, serta jadikan perbedaan sebagai rahmat, bukan sumber perpecahan,” demikian himbauan yang mengalun, menjadi harapan besar agar NU tetap kokoh sebagai benteng umat hingga akhir zaman.


(Kontributor : Agus F/Djarmanto-YF2DOI//Redaksi)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama