RTNews. SEMARANG – Suasana haru, semarak, dan penuh keberkahan menyelimuti penutupan Santri Musiman (Sasiman) 2026 Pondok Pesantren Salafiyah Az-Zuhri Ketileng di Taman Indonesia Kaya, Jalan Menteri Supeno, Kota Semarang, Sabtu malam (4/7/2026).
Pengasuh Ponpes Salafiyah Az-Zuhri KH Muhammad Luqman Hakim (Gus Luqman), didampingi Ketua Panitia H. Agus Sumartono dan Hari Supangat (Kang Haris), menyerahkan penghargaan kepada para santri berprestasi setelah menjalani pendidikan karakter dan keagamaan selama 10 hari.
Mengusung tema "Sasiman Gen-AZ: Detektif Kanan, Santri Realita Bukan Cuma Sosialita", kegiatan ini terinspirasi dari tokoh Detektif Conan yang populer di Jepang.
Namun, Gus Luqman mengubah maknanya menjadi "Detektif Kanan", simbol generasi Ashabul Yamin atau golongan kanan yang berpihak pada kebaikan, akhlak mulia, dan nilai-nilai kepahlawanan Islami.
"Kalau di Jepang ada Detektif Conan, di Ponpes Az-Zuhri ada Detektif Kanan. Kami ingin anak-anak menjadi generasi yang berpihak pada kebaikan, bukan sekadar menikmati tontonan, tetapi meneladani nilai-nilai uswah hasanah," tegas Gus Luqman disambut tepuk tangan para hadirin.
Menurut Gus Luqman, tema tersebut dipilih sebagai ikhtiar menyelamatkan generasi muda dari kecanduan gawai dan media sosial. Selama mengikuti Sasiman, para santri hidup tanpa telepon genggam, digembleng dengan ilmu agama, pembentukan akhlak, serta permainan tradisional yang mempererat persaudaraan.
"Anak-anak Gen Z kami ajak hidup dengan semangat asih, asah, dan asuh. Selama sepuluh hari mereka berinteraksi tanpa bersentuhan dengan gadget maupun ponsel," ujar Gus Luqman.
Sebanyak 200 santri usia SD hingga SMP mengikuti Sasiman yang berlangsung di Gunung Santri, Kompleks Ponpes Az-Zuhri. Seluruh peserta memperoleh fasilitas makan tiga kali sehari tanpa dipungut biaya. Selain mengaji, mereka diajak memainkan permainan tradisional seperti dakon, gobak sodor, lompat tali, dan berbagai permainan ketangkasan sebagai sarana membangun kebersamaan dan karakter.
Ketua Panitia Sasiman H. Agus Sumartono menjelaskan, pembinaan santri tidak hanya menanamkan nilai kawelas asihan, tetapi juga membiasakan budaya 4S: Salam, Senyum, Sapa, dan Sopan. Sebelum penutupan, seluruh peserta juga melaksanakan ziarah ke makam para ulama, di antaranya Abah KH Saiful Anwar Zuhri Rasyid, Mbah Terboyo, Mbah Genuk, Sunan Pandanaran, dan KH Sholeh Darat sebagai bentuk penghormatan kepada para pewaris dakwah.
"Pendaftaran kami buka melalui media sosial hanya sekitar dua jam. Dari ratusan pendaftar, yang diterima hanya 200 anak. Selama kegiatan semuanya gratis, tanpa membawa ponsel, dan ini sudah memasuki penyelenggaraan tahun kedelapan," jelas Agus.
Malam penutupan semakin meriah ketika para santri menampilkan berbagai pertunjukan seni, tari, dan kreativitas di hadapan orang tua. Suasana penuh kehangatan tampak saat para santri saling bersalaman, berpelukan, dan berpamitan sebelum kembali ke keluarga masing-masing.
Menutup kegiatan, Gus Luqman mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan akhlak tidak berhenti di pesantren, melainkan harus dilanjutkan di lingkungan keluarga.
"Orang tua harus menjadi uswah hasanah, teladan terbaik bagi anak-anaknya. Jagalah adab, akhlak, dan kebiasaan baik yang telah mereka pelajari selama di pesantren," pesan putra almarhum KH Saiful Anwar Zuhri Rasyid tersebut.
Melalui Sasiman 2026, Pondok Pesantren Salafiyah Az-Zuhri kembali menegaskan bahwa pendidikan Islam bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga ikhtiar menanamkan akhlak, mempererat silaturahmi, serta melahirkan generasi yang mencintai kebaikan, berjiwa religius, dan siap menjadi cahaya bagi umat serta bangsa.
(Redaksi)


Posting Komentar