RTNews. SEMARANG – Kemampuan menjadi diplomat tidak hanya diukur dari kepiawaian berbicara, tetapi juga dari etika, adab, dan kecakapan membangun komunikasi yang santun. Berangkat dari semangat tersebut, Program Studi Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang menggelar Table Manner Course di Patra Hotel & Convention Semarang, Kamis (9/7/2026), yang diikuti 70 mahasiswa sebagai bagian dari Mata Kuliah Praktik Diplomasi.
Dekan FISIP Unwahas, Dr. Ali Martin, S.IP., M.A., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan pembelajaran berbasis praktik (experiential learning) yang menghubungkan teori dengan pengalaman nyata di lingkungan profesional. Hadir dalam kegiatan tersebut dosen pengampu Mata Kuliah Praktik Diplomasi Dr. Anna Yulia Hartati, S.IP., M.A., serta instruktur hospitality Patra Hotel & Convention Semarang, Daniel Fery, S.E.
Dalam sambutannya, Dr. Anna Yulia Hartati menegaskan bahwa table manner bukan sekadar mempelajari tata cara menggunakan peralatan makan, melainkan bagian penting dari protokol diplomatik.
"Banyak komunikasi strategis dalam dunia diplomasi berlangsung saat jamuan resmi, resepsi kenegaraan, maupun forum bisnis internasional. Karena itu, penguasaan etika perjamuan merupakan kompetensi yang tidak dapat dipisahkan dari profesi diplomat," tegasnya.
Ia menambahkan, kegiatan yang menjadi bagian dari Laboratorium Diplomasi FISIP Unwahas tersebut bertujuan membentuk karakter mahasiswa agar mampu menunjukkan profesionalisme melalui sikap, etika, dan kemampuan membangun komunikasi yang elegan. "Profesionalisme tidak hanya ditunjukkan melalui kemampuan akademik, tetapi juga melalui sikap, etika, dan kemampuan membangun komunikasi yang elegan dalam lingkungan internasional," ujarnya.
Sementara itu, Dr. Ali Martin mengapresiasi penyelenggaraan pelatihan yang dinilai mampu memperkuat kualitas lulusan Program Studi Hubungan Internasional. Menurutnya, pembelajaran berbasis praktik menjadi strategi penting untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif dan mendunia.
Selama pelatihan, peserta memperoleh materi mengenai etika menghadiri jamuan resmi, penggunaan berbagai jenis peralatan makan (cutlery), etika komunikasi di meja makan, hingga simulasi menjadi tuan rumah maupun tamu dalam forum internasional. Materi disampaikan secara interaktif oleh Daniel Fery, sehingga mahasiswa dapat mempraktikkan langsung standar etika yang lazim diterapkan dalam kegiatan diplomatik dan pertemuan bisnis internasional.
Melalui kegiatan ini, FISIP Unwahas berharap mahasiswa semakin percaya diri berkomunikasi lintas budaya, memiliki wawasan cross-cultural communication, serta mampu membawa nilai-nilai profesionalisme, adab, dan penghormatan kepada sesama dalam setiap kesempatan.
Semangat silaturahmi, etika yang luhur, dan akhlak mulia menjadi bekal berharga untuk melahirkan diplomat yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijaksana dalam membangun persaudaraan antarbangsa.
Sebagaimana ajaran agama mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang juga tercermin dari adabnya, semoga ikhtiar ini melahirkan generasi yang mampu menjadi duta bangsa, menghadirkan kedamaian, serta menguatkan persahabatan dunia dengan penuh keberkahan.
(Redaksi)


Posting Komentar